Sabtu, 03 Mei 2008

Artikel : Teknologi Pembelajaran.

PERANAN LINGKUNGAN BELAJAR DAN GURU DALAM PENGELOLAAN PEMBELAJARAN

Oleh : Haryati Habie, S.Pd

I. Pendahuluan

Salah satu faktor yang mempengaruhi proses belajar siswa yang dapat dimanipulasi guru adalah lingkungan belajar. Dengan menata lingkungan belajar, guru dapat menciptakan pembelajaran yang kondusif sehingga siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Lingkungan belajar adalah situasi yang ada di sekitar siswa pada saat belajar. Situasi ini dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Bisa dibayangkan jika kita memasuki ruangan kelas yang lantainya bersih, tempat duduk dan alat pelajaran ditata dengan rapi, pajangan diletakkan pada tempat yang tepat, dan ada bunga di meja guru. Ya … tentunya kita akan dapat mengajar dengan tenang serta menyenangkan. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap proses belajar siswa. Siswa akan belajar dengan tenang dan nyaman. Sebaliknya, kalau kita memasuki ruangan kelas yang kotor, sumpek, dan penataan ruangannya yang kurang baik, kita akan segan untuk mengajar dan tentu hal ini juga akan berpengaruh terhadap proses belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan fisik kelas dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Di samping lingkungan fisik kelas, hubungan sosio-emosional antara guru dengan siswa serta antar-siswa juga turut mempengaruhi proses pembelajaran. Dapat dibayangkan , apa yang akan terjadi jika guru tidak mengenal dengan baik para siswanya, atau hubungan antar-siswa di dalam kelas kurang baik. Guru tersebut akan mengalami kesukaran dalam membantu siswa belajar. Selain itu juga, hubungan sosial antar-siswa juga berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Siswa yang pemalu akan menjadi semakin pemalu apabila teman-temannya selalu mengejeknya setiap dia membuat kesalahan. Situasi ini akan menghambat proses belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas proses pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan fisik kelas, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan psiko-sosial kelas.

Keberhasilan pembelajaran ditunjukkan oleh dikuasainya tujuan pembelajaran oleh siswa. Kita semua mengakui bahwa faktor lain yang juga mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran adalah faktor kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang efektif tidak dapat muncul dengan sendirinya tetapi guru harus menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara optimal.

Banyak peran yang harus dimainkan guru dalam upaya membantu siswa menguasai tujuan pembelajaran secara optimal. Secara umum tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai fasilitator, yang bertugas menciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa.

Di samping itu guru memerlukan keahlian khusus, mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang begitu kompleks. Oleh karena itu seorang guru perlu memiliki kompetensi dan profesionalisme yang tinggi. Kompetensi guru merupakan tuntutan mutlak yang harus dimiliki oleh setiap guru. Kompetensi yang harus dimiliki tersebut dengan sendirinya terkait dengan tugas dan tanggung jawab guru itu sendiri.

Dalam hubungannya dengan hal tersebut, maka pada kesempatan ini penulis akan mengulas tentang Peranan Lingkungan Belajar dan Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran. Mengapa ? Karena dengan mengetahui masalah ini, kemampuan profesional kita sebagai pengajar diharapkan akan meningkat karena kita mampu menata lingkungan belajar dan memainkan berbagai peran serta menguasai kompetensi yang harus dimiliki guru dalam pembelajaran.

2. Penataan Lingkungan Belajar dalam Pembelajaran

Penataan lingkungan belajar dalam pembelajaran mencakup lingkungan fisik dan lingkungan psiko-sosial dalam pembelajaran.

Lingkungan fisik kelas yang baik adalah ruang kelas yang menarik, efektif, serta mendukung siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Perubahan pada tujuan pembelajaran dan pada kegiatan belajar yang dilakukan siswa menuntut perubahan pada penataan lingkungan fisik kelas. Ini berarti bahwa guru harus menyesuaikan penataan ruang kelasnya dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Meskipun barang-barang yang ada di dalam kelas kurang memadai keadaannya apabila ditata dan diatur dengan baik, barang-barang tersebut menjadi bermanfaat. Hal ini perlu dilakukan guru karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa penataan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran ( Winzer, 1995).

Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas adalah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, pajangan dan barang-barang lainnya yang ada di dalam kelas.

Menurut Louisell (1992), ketika menata lingkungan fisik kelas, guru hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :

· Keleluasaan pandangan (Visibility); Artinya, penempatan atau penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa sehingga siswa dapat secara leluasa memandang guru atau kegiatan yang sedang berlangsung serta guru juga dapat memandang semua siswa setiap saat menyajikan materi pelajaran.

· Mudah dicapai (Accessibility); Artinya, barang-barang yang sering digunakan siswa dalam proses pembelajaran diletakkan pada tempat yang dapat dengan mudah dijangkau oleh siswa.

· Keluwesan (Flexibility); Artinya, barang-barang yang ada di dalam kelas hendaknya mudah untuk dipindah-pindahkan sehingga mudah untuk ditata sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa dan guru.

· Kenyamanan; Artinya, ruangan kelas harus ditata dengan baik agar dapat memberikan kenyamanan bagi siswa dan guru selama pembelajaran, dalam hal ini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.

· Keindahan; Artinya, prinsip ini berkenaan dengan usaha guru untuk menciptakan ruangan kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Ruangan yang bersih dan ditata dengan rapi akan menimbulkan kesan yang menyenangkan untuk belajar.

Dalam meningkatkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran, guru menerapkan berbagai strategi pembelajaran. Setiap strategi pembelajaran yang diterapkan menuntut tatanan tempat duduk yang berbeda-beda. Hasil penelitian (Louisell,1992) menunjukkan bahwa tempat duduk yang ditata berjejer menghadap guru dapat meningkatkan jumlah kerja yang dilakukan siswa.

Berkenaan dengan penataan lingkunganpsiko-kelas, Bandura (Good dan Brophy, 1990) menyatakan bahwa keberhasilan guru dalam menata lingkungan psiko-sosial kelas dipengaruhi oleh karakteristik guru itu sendiri. Persyaratan atau perilaku guru yang dapat menunjang terciptanya hubungan antar-siswa yang baik di kelas, antara lain adalah disukai oleh siswa, memiliki persepsi yang realistik tentang dirinya dan siswanya, akrab dengan siswa dalam batas hubungan guru-siswa, bersikap positif terhadap pertanyaan atau pendapat siswa, serta sabar, teguh dan tegas.

Selain karakteristik guru, lingkungan psiko-sosial kelas juga dipengaruhi oleh hubungan sosial antar-siswa. Hubungan antar-siswa yang baik dapat ditingkatkan melalui kegiatan kelompok, baik belajar kelompok maupun bekerja kelompok. Berkenaan dengan kegiatan kelompok ini, Weber (1977) mengemukakan enam hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengembangkan dan melaksanakan kegiatan kelompok, yaitu perilaku yang diharapkan, fungsi kepemimpinan, pola persahabatan siswa, norma/aturan, kemampuan berkomunikasi, dan kebersamaan.

Karena keenam aspek kegiatan kelompok tersebut sangat penting, guru harus menyampaikannya kepada siswa. Pembentukan sikap membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan latihan secara terus menerus, kita harapkan siswa dapat menerapkan keenam aspek tersebut dalam kegiatan kelompok.

3. Peran Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran

Dalam setiap kegiatan pembelajaran guru dituntut untuk berperan sebagai pengajar (instruktor) dan sekaligus sebagai manajer (manager). Kedua peran tersebut saling berkaitan satu sama lain.

Sebagai pengajar, guru dituntut untuk menciptakan kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Untuk dapat melakukan perannya sebagai pengajar, guru harus :

  • Memiliki informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran (sebagai manusia sumber);
  • Mampu menyampaikan informasi dengan tepat ( sebagai komunikator);
  • Mampu mengarahkan kegiatan pembelajaran (sebagai moderator);
  • Mampu menilai keberhasilan pembelajaran (sebagai evaluator);
  • Mampu membantu siswa mengatasi masalah yang dihadapinya (sebagai pembimbing); serta
  • Mampu mengatur dan memonitor pelaksanaan pembelajaran (sebagai organisator).

Sebagai manajer, guru dituntut untuk menciptakan situasi kelas yang kondusif bagi pembelajaran sehingga siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Agar siswa termotivasi untuk terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, guru hendaknya :

  • Menunjukkan sikap positif terhadap siswa ;
  • Memberikan tugas atau kegiatan yang bermakna, sesuai dan bermakna bagi siswa;
  • Menunjukkan semangat mengajar;
  • Menerapkan disiplin secara fleksibel;
  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan kelompok;
  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan self-evaluation;
  • Memberikan balikan positif terhadap hasil kerja siswa; serta
  • Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh kebanggaan dari hasil kerjanya.

Keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sangat tergantung pada kemampuan guru dalam melakukan kedua peran tersebut secara utuh. Disamping faktor-faktor yang telah diuraikan di atas, maka guru sebagai tenaga pengelola pendidikan yang memiliki profesionalisme dan dedikasi yang tinggi dalam memfasilitasi pencapaian tujuan pembelajaran dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi/kemampuan.

Menurut Dirjen Dikti (2002), ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru kelas SD, yaitu :

  • Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya.
  • Pemahaman tentang peserta didik.
  • Penguasaan pembelajaran yang mendidik, serta
  • Pengembangan kepribadian dan keprofesionalan.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pembelajarannya. Berkenaan dengan hal tersebut, guru sebagai motivator harus mampu :

  • Menjabarkan secara rinci setiap kompetensi rumpun pelajaran, yaitu merumuskan tujuan, metode, dan langkah-langkah pembelajaran;
  • Memotivasi siswa untuk proaktif dalam mendapatkan pengetahuan.
  • Menaruh perhatian terhadap keberadaan dan kebutuhan siswanya, sehingga siswa merasa dihargai sebagai seorang individu;
  • Menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri siswa, agar kelak mampu menghadapi segala tantangan yang menghadang.
  • Menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang kondusif.
  • Berinovasi dalam menciptakan dan mengoperasionalkan media pengajaran;

Selain sebagai motivator, peran guru dalam pengelolaan pembelajaran adalah sebagai pengamat, di mana guru memberi kebebasan yang bertanggung jawab kepada siswa untuk berkembang melalui caranya sendiri melalui metode pembelajaran tertentu. Selain sebagai pengamat, guru harus juga berperan sebagai fasilitator, artinya guru harus mampu membimbing dan memberi arah untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Seorang guru harus menguasai keterampilan melaksanakan pembelajaran. Keterampilan tersebut meliputi :

  • Keterampilan memulai pelajaran, yang mengacu pada kemampuan guru untuk menciptakan kondisi mental dan perhatian siswa terpusat pada apa yang akan dipelajarinya.
  • Keterampilan mengelola pembelajaran, yaitu kemampuan memilih, menyampaikan, memberi contoh, memanfaatkan media pengajaran, dan memberi penguatan agar siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
  • Keterampilan mengorganisasi waktu, siswa, dan fasilitas belajar, yaitu kemampuan guru dalam mengatur penggunaan waktu, pemberdayaan siswa, dan pemanfaatan fasilitas belajar seoptimal mungkin.
  • Keterampilan melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar, mengacu pada kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diserap siswa selama mengikuti proses pembelajaran.
  • Keterampilan mengakhiri pembelajaran, yang mengacu pada kemampuan guru dalam memberikan gambaran menyeluruh kepada siswa tentang kompetensi yang telah dipelajari.

4. Penutup

Dari keseluruhan pembahasan akhirnya dapat disimpulkan bahwa :

  • Keadaan lingkungan fisik dan psiko-sosial kelas sangat berpengaruh terhadap terciptanya proses pembelajaran yang efektif.
  • Lingkungan fisik kelas yang mempengaruhi lancarnya pembelajaran adalah tatanan ruangan kelas dan isinya.
  • Dalam menata ruangan kelas, guru hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip keleluasaan pandangan, kemudahan dalam mencapai, keluwesan, kenyamanan dan keindahan.
  • Dalam menata tempat duduk siswa, guru harus memperhatikan tujuan dan strategi pembelajaran.
  • Peran guru dalam pengelolaan pembelajaran : sebagai motivator, pengamat, fasilitator.
  • Peran guru dalam kegiatan pembelajaran adalah PlOrEv, yaitu Planner, Organizer, Evaluator, ditambah peran sebagai pembimbing.
  • Faktor mengajar yang perlu diperhatikan supaya proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif yaitu : kesempatan untuk belajar; pengetahuan awal siswa; refleksi; motivasi keragaman individu; kemandirian dan kerja sama; suasana yang mendukung; belajar untuk kebersamaan; siswa sebagai pembangun gagasan; rasa ingin tahu, kreativitas, dan keutuhan; menyenangkan; interaksi dan komunikasi; belajar cara belajar.

@@@@@@@@@@@@@

Daftar Pustaka

Hernawan Asep Herry, dkk (2004) Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Universitas Terbuka, Jakarta.

Suciati, dkk (2002) Belajar & Pembelajaran 2, Universitas Terbuka, Jakarta.

Winataputra Udin S, dkk (1998) Strategi Belajar Mengajar. Depdikbud Proyek Peningkatan Mutu Guru Kelas SD Setara D-II, Jakarta.

HAKIKAT BELAJAR

I. PENGERTIAN BELAJAR

a. Pengertian Belajar yang Populer

Adapun hal-hal yang berhubungan dengan belajar :

  • Situasi belajar harus bertujuan .
  • Tujuan dan maksud belajar timbul dari kehidupan anak sendiri.
  • Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat.
  • Proses belajar terutama mengerjakan hal-hal yang sebenarnya..
  • Siswa memberikan reaksi secara keseluruhan.
  • Siswa mereaksi sesuatu aspek dari lingkungan yang bermakna baginya.

Prinsip-prinsip Perubahan Tingkah Laku

Ada sejumlah unsur yang menjadi ciri setiap perubahan tingkah laku, yaitu :

  1. Tingkah laku dimotovasi.
  2. Tingkah laku yang bermotivasiTujuan yang disadari oleh seseorang.
  3. Lingkungan menyediakan kesempatan untuk bertingkah laku tertentu.
  4. Tingkah laku dipengaruhi oleh proses dalam organisme.
  5. Tingkah laku ditentukan oleh kapasitas dalam diri organisme manusia.

b. Pengertian Belajar Menurut Beberapa Aliran Psikologi

Beberapa aliran psikologi dalam hubungannya dengan teori belajar, yaitu

  • Teori psikologi klasik.
  • Teori psikologi daya.
  • Teori mental state.
  • Teori psikologi behaviorisme.
  • Teori psikologi Gestalt.

2. TEORI BELAJAR

Belajar Menurut Psikologi Kognitif

Teori kognitif berpijak pada tiga hal, yaitu :

  • Perantara sentral (central intermdiaries).
  • Struktur kognitif.
  • Pemahaman dalam pemecahan masalah.

Prinsip-prinsip Belajar Teori Kognitif

· Gambaran perseptual sesuai dengan masalah yang dipertunjukkan kepada siswa.

· Organisasi pengetahuan .

· Belajar dengan pemahaman

· Umpan balik kognitif.

· Penetapan tujuan

· Berpikir devergen.

Belajar Menurut Psikologi Gestalt

Psikologi Gestalt sering disebut psikologi organisme atau field theory. Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur. Suatu keseluruhan bukan terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur. Unsur-unsur itu berada dalam keseluruhan menurut struktur yang telah tertentu dan saling berinteralisi satu sama lain.

Prinsip-prinsip Belajar Gestalt (Field Theory)

1. Belajar dimulai dari suatu keseluruhan.

2. Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian.

3. Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan.

4. Anak belajar dengan menggunakan pemahaman.

3. CIRI-CIRI BELAJAR

Ciri-ciri (karakteristik) belajar yaitu :

  • Belajar berbeda dengan kematangan.
  • Belajar dibedakan dari perubahan fisik dan mental.
  • Ciri belajar yang hasilnya relatif menetap.

4. UNSUR-UNSUR DINAMIS DALAM PROSES BELAJAR

Unsur-unsur yang terkait dalam proses belajar terdiri dari :

1. Motivasi siswa,

2. Bahan Belajar.

3. Alat bantu belajar.

4. Suasana belajar.

5. Kondisi subjek yang belajar.

HAKIKAT PEMBELAJARAN

1. PENGERTIAN PEMBELAJARAN

Sistem pembelajaran dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar di kelas atau di sekolah, karena diwarnai oleh organisasi dan interaksi antara berbagai komponen yang saling berkaitan, untuk membelajarkan peserta didik.

2. TEORI-TEORI PEMBELAJARAN

a. Mengajar adalah Upaya Menyampaikan Pengetahuan Kepada Peserta

didik/Siswa di Sekolah.

b. Mengajar adalah Mewariskan Kebudayaan Kepada Generasi Muda Melalui

Lembaga Pendidikan Sekolah.

c. Pembelajaran adalah Upaya Mengorganisasi Lingkungan untuk Menciptakan Kondisi Belajar bagi Peserta didik.

d. Pembelajaran adalah Upaya Mempersiapkan Peserta Didik untuk Menjadi Warga Masyarakat yang baik.

e. Pembelajaran adalah Suatu Proses Membantu Siswa Menghadapi Kehidupan Masyarakat Sehari-hari.

3. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN

Ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran, yaitu :

  • Rencana.
  • Kesalingketergantungan
  • Tujuan.

4. UNSUR-UNSUR PEMBELAJARAN

Unsur Dinamis Pembelajaran pada Diri Guru

a. Motivasi membelajarkan siswa.

b. Kondisi guru siap membelajarkan siswa.

Unsur Pembelajaran Konkruen dengan Unsur Belajar

a. Motivasi belajar menuntut sikap tanggap dari pihak guru serta kemampuan untuk mendorong motivasi dengan berbagai upaya pembelajaran.

Ada beberapa prinsip yang dapat digunakan oleh guru dalam rangka memotivasi siswa agar belajar, yaitu :

1. Prinsip kebermaknaan.

2. Prasyarat.

3. Model.

4. Komunikasi terbuka.

5. Daya tarik.

6. Aktif dalam latihan.

7. Latihan yang terbagi.

8. Tekanan instruksional.

9. Keadaan yang menyenangkan.

b. Sumber-sumber yang digunakan sebagai bahan belajar terdapat pada :

1. Buku pelajaran.

2. Pribadi guru sendiri.

3. Sumber masyarakat.

c. Pengadaan alat-alat bantu belajar dilakukan oleh guru, siswa sendiri dan

bantuan orang tua.

Prosedur yang dapat ditempuh :

· Memilih dan menggunakan alat bantuan yang tersedia di sekolah sesuai dengan rencana pembelajaran.

· Siswa memilih dan membuat sendiri alat bantuan yang diperlukannya, berdasarkan petunjuk dan bantuan guru.

· Membeli di pasaran bebas seandainya alat-alat yang diperlukan itu ada dan cocok untuk kegiatan belajar yang akan dilakukan.

d. Untuk menjamin dan membina suasana belajar yang efektif.

Upaya yang dapat dilakukan :

· Sikap guru sendiri terhadap pembelajaran di kelas.

· Perlu adanya kesadaran yang tinggi dikalangan siswa untuk membina disiplin dan tata tertib yang baik dalam kelas.

e. Subjek belajar yang berada dalam kondisi kurang mantap perlu diberikan

pembinaan.

Pembinaan kesehatan, penyesuaian bahan belajar dengan tingkat kecerdasan siswa, memperhatikan tingkat kesiapan belajar yang tepat waktunya, penyesuaian bahan belajar dengan kemampuan dan bakatnya, dan memberikan pengalaman-pengalaman yang perekuisit, semua kondisi itu perlu dikontrol oleh guru.

Bila diketahui terdapat ketakseimbangan dan gangguan pada kondisi mereka, maka guru perlu segera melakukan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkannya.

BAB V

TUJUAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1. TUJUAN BELAJAR

Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa.

Komponen-komponen Tujuan Belajar

Tujuan belajar terdiri dari tiga komponen, yaitu :

  1. Tingkah laku terminal.
  2. Kondisi-kondisi tes.
  3. Standar (ukuran ) perilaku.

Pentingnya Tujuan Belajar dan Pembelajaran

Secara khusus kepentingan itu terletak pada :

1. Untuk menilai hasil pembelajaran.

2. Untuk membimbing siswa belajar.

3. Untuk merancang sistem pembelajaran.

4. Untuk melakukan komunikasi dengan guru-guru lainnya dalam meningkatkan proses pembelajaran.

5. Untuk melakukan kontrol terhadap pelaksanaan dan keberhasilan program pembelajaran.

2. TUJUAN PEMBELAJARAN

Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan guru itu sendiri.

Suatu tujuan pembelajaran seyogyanya memenuhi kriteria sebagai berikut :

  • Tujuan itu menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar.
  • Tujuan mendefinisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati.
  • Tujuan menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki.

Tujuan Sebagai Instrumen Pengukuran

Tujuan merupakan dasar untuk mengukur hasil pembelajaran, juga menjadi landasan untuk menentukan isi pelajaran dan metode mengajar.

3. KLASIFIKASI TUJUAN PENDIDIKAN

Klasifikasi tujuan pendidikan dilakukan berdasarkan pendekatan-pendekatan :

a. Pendekatan Langsung .

Dengan pendekatan ini diklasifikasikan tujuan menjadi beberapa tujuan pendidikan, yakni :

- Tujuan jangka panjang

- Tujuan antara

- Tujuan pembelajaran

- Tujuan unit.

- Tujuan pelajaran

- Tujuan latihan.

Klasifikasi tujuan pendidikan ini digunakan dalam rangka merancang kurikulum.

b. Pendekatan Jenis Perilaku.

Klasifikasi ini dibuat berdasarkan taksonomi tujuan pendidikan, yaitu :

- Tujuan-tujuan kognitif.

- Tujuan-tujuan afektif.

- Tujuan-tujuan psikomotorik.

c. Pendekatan Sumber.

Klasifikasi tujuan pendidikan meliputi :

- Tujuan-tujuan keterampilan kehidupan.

- Tujuan-tujuan metodologis.

- Tujuan-tujuan isi.

Klasifikasi tujuan ini berguna dalam rangka memilih dan merumuskan tujuan-tujuan suatu bidang pengajaran/bidang studi.

4. TAKSONOMI TUJUAN PENDIDIKAN

Taksonomi tujuan terdiri dari domain-domain kognitif, afektif dan psikomotor.

  1. Matra Kognitif, menitikberatkan pada proses intelektual.

Jenjang-jenjang tujuan kognitif, menurut Bloom, terdiri dari :

- Pengetahuan

- Pemahaman.

- Penerapan (aplikasi).

- Analisis (pengkajian).

- Sintesis.

- Evaluasi.

  1. Matra Afektif, menyangkut sikap, perasaan, emosi, dan karakteristik moral.

Krathwohl,Bloom, dan Masia, mengembangkan hierarkhi matra ini terdiri dari :

- Penerimaan (receiving).

- Sambutan (responding).

- Menilai (valuing).

- Organisasi (organization).

- Karakterisasi dengan suatu kompleks nilai.

  1. Matra Psikomotorik, menunjuk pada gerakan-gerakan jasmaniah dan kontrol jasmaniah

DASAR PEMBELAJARAN

1. ASAS-ASAS BELAJAR

a. Tujuan Belajar

Upaya yang dilakukan untuk mengarahkan perhatian siswa kepada tujuan pelajaran, antara lain sebagai berikut :

  • Bagi siswa yang berada pada tingkat lanjutan, diberikan tes nyata, lalu individu menerima umpan balikan, serta bantuan mengerjakan tes, dan melaksanakan diskusi kelompok kecil.
  • Bagi siswa tingkat SD, menggunakan situasi kehidupan nyata berdasarkan pengalaman siswa sendiri.
  • Mempertunjukkan nilai pelajaran itu bagi pribadi dan intelektual siswa.

b. Motivasi Belajar

Motivasi dapat bersumber dari dalam diri siswa sendiri berdasarkan kebutuhan, dorongan dan kesadaran pada tujuan belajaryang disebut motivasi intrinsik. Motivasi belajar dapat juga tumbuh berkat rangsangan dan tekanan atas desakan dari luar, yang disebut motivasi ekstrinsik.

Kondisi-kondisi kelas berikut ini dapat meningkatkan motivasi di dalam kelas: suasana lingkungan kelas, keterlibatan siswa secara langsung, mendorong keberhasilan, transfer dan retensi.

c. Umpan Balik Hasil Belajar

Beberapa contoh pelaksanaan asas pengetahuan tentang hasil di dalam kelas:

· Kelompok baca.

· Guru menjelaskan hasil-hasil tes bentuk esay.

d. Transfer Hasil Belajar

Tiga teori tentang transfer hasil belajar yaitu :

· Teori disiplin formal (The formal discipline theory).

· Teori unsur-unsur yang identik (The identical elements theory).

· Teori generalisasi (The generalization theory).

2. AKTIVITAS BELAJAR/KETERLIBATAN LANGSUNG

Jenis-jenis Aktivitas

Paul D Dierich membagi kegiatan belajar menjadi 8 kelompok, yaitu :

1. Kegiatan-kegiatan visual.

2. Kegiatan-kegiatan lisan (oral).

3. Kegiatan-kegiatan mendengarkan.

4. Kegiatan-kegiatan menulis.

5. Kegiatan-kegiatan menggambar.

6. Kegiatan-kegiatan metrik.

7. Kegiatan-kegiatan mental.

8. Kegiatan-kegiatan emosional.

Manfaat Aktivitas dalam Pembelajaran

Kegiatan dalam pembelajaran bermanfaat bagi siswa memperoleh pengalaman langsung, mengembangkan pribadi, memupuk kerjasama sekolah masyarakat dan interpersonal, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan suasana belajar menjadi hidup/dinamis.

Upaya Pelaksanaan Aktivitas dalam Pembelajaran

  1. Pelaksanaan aktivitas pembelajaran dalam kelas.
  2. Pelaksanaan aktivitas pembelajaran sekolah masyarakat.
  3. Pelaksanaan aktivitas pembelajaran dengan pendekatan CBSA.

3. PERBEDAAN INDIVIDUAL

Perbedaan individual dapat dilihat dari dua segi yaitu :

  • Perbedaan segi horizontal : perbedaan individu dalam aspek mental.
  • Perbedaan segi vertikal : perbedaan individudalam aspek jasmaniah.

Perbedaan individual disebabkan oleh dua faktor yaitu :

  • Faktor keturunan (bawaan kelahiran).
  • Faktor pengaruh lingkungan.

Jenis-jenis Perbedaan Individual

Perbedaan individual menyangkut dengan berbagai aspek diri, yang memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu :

  • Kecerdasan.
  • Bakat (aptitude).
  • Keadaan Jasmani.
  • Penyesuaian sosial dan emosional.
  • Keadaan keluarga.
  • Prestasi belajar.

Upaya Pelayanan Perbedaan Individual

  • Anak-anak yang tergolong cerdas akan berkembang sesuai dengan kemampuannya, dengan cara ; akselerasi dan program tambahan.
  • Pengajaran individual.
  • Penyelenggaraan kelas khusus bagi siswa yang cerdas.
  • Bagi siswa yang lamban dapat diselenggarakan kelas remedial.
  • Pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan.
  • Pembentukan kelompok informal oleh siswa sendiri.

4. PENGULANGAN DAN LATIHAN

Pengertian latihan dalam hubungan mengajar dan belajar adalah suatu tindakan/perbuatan pengulangan yang bertujuan untuk lebih memantapkan hasil belajar.

Manfaat Latihan dalam Pembelajaran

Manfaatnya: memberikan pengalaman pendidikan, memantapkan penguasaan aspek-aspek tingkah laku, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, bermakna bagi kehidupan sehari-hari, meningkatkan keefektifan pembelajaran mendorong motivasi belajar.

Prinsip-prinsip Pelaksanaan Ulangan dan Latihan

Pelaksanaan latihan berpegang pada prinsip-prinsip, yaitu penataan lingkungan belajar, fungsional bagi siswa, dilaksanakan secara sistematis, tepat waktu, dan berdasarkan banyaknya bahan yang dilatihkan.

Upaya Pendayagunaan Latihan dalam Pembelajaran

  • Repetition (ulangan).
  • Latihan otomatisasi (drill).
  • Review atau reteaching.
  • Practice.
  • Review dan Practice.

5. LINGKUNGAN

Dengan berinteraksi dengan lingkungan, maka manusia mendapat pengalaman dan berkembang menjadi manusia yang mampu mendayagunakan dan/atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Jenis-jenis Lingkungan

William Burton mengadakan klasifikasi lingkungan, yang meliputi : daerah, keadaan alam, sejarah, masalah kependudukan,pertanian, ekonomi dan

perdagangan, pabrik dan industri, perbankan dan keuangan, tranportasi, komunikasi, mata pencarian,

distribusi kekayaan, standar hidup, kesehatan, pendidikan, agama, pemerintahan dan politik, tempat rekreasi, pandangan atau prakarsa masyarakat.

Manfaat Mempelajari Lingkungan Masyarakat

Pembelajaran berdasarkan lingkungan memiliki manfaat yakni ; menanamkan pengertian yang realistik tentang proses sosial, mengembangkan kesadaran, minat, berpikir ilmiah, tanggung jawab, persiapan hidup di masyarakat, dsb.

Upaya Pembelajaran Berdasarkan Lingkungan

Upaya pendayagunaan lingkungan dalam proses pembelajaran dilaksanakan dengan membawa lingkungan ke dalam kelas, atau membawa kelas ke masyarakat, dalam pelaksanaannya menggunakan metode-metode tertentu, seperti karyawisata, nara sumber, berkemah, kerja pengalaman, survei dan proyek.

MOTIVASI BELAJAR

1. PENGERTIAN DAN PENTINGNYA MOTIVASI

a. Pengertian Motivasi

Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri saeseorang yang ditandai oleh timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Motivasi memiliki komponen dalam dan komponen luar. Ada kaitan yang erat antara motivasi dan kebutuhan, dan drive, dengan tujuan, dan insentif.

b. Pentingnya Motivasi dalam Upaya Belajar dan Pembelajaran

Motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah dan penggerak tingkah laku. Motivasi mempunyai nilai dalam menentukan keberhasilan, demokratisasi pendidikan, membina kreatifitas dan imajinitas guru, pembinaan disiplin kelas, dan menentukan efektifitas pembelajaran.

2. JENIS DAN SIFAT MOTIVASI

a. Jenis Motivasi

Tiga pendekatan untuk menentukan jenis-jenis motivasi, yaitu :

· Pendekatan kebutuhan : - Kebutuhan fisiologis.

- Kebutuhan keamanan.

- Kebutuhan sosial.

- Kebutuhan berprestise.

· Pendekatan fungsional : Berdasarkan konsep-konsep motivasi :

- Penggerak.

- Harapan.

- Insentif.

· Pendekatan deskriptif : Menunjuk pada kejadian-kejadian yang dapat diamati.

Motivasi memiliki dua sifat yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

3. PRINSIP-PRINSIP MOTIVASI BELAJAR

Prinsip-prinsip untuk mendorong motivasi belajar dalam bentuk :

· Pemberian pujian.

· Kepuasan kebutuhan psikologis.

· Intrinsik.

· Penguatan.

· Penjalaran.

· Pemahaman atas tujuan.

· Tugas yang dibebankan oleh diri sendiri.

· Ganjaran dari luar.

· Teknik pembelajaran yang bervariasi.

· Minat khusus siswa.

· Penyesuaian dengan kondisi siswa.

· Menghindari adanya kecemasan.

· Tingkat kesulitan tugas.

· Kadar emosi.

· Pengaruh kelompok

· Kreatifitas siswa.

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR

  • Penggerakkan dengan cara prinsip kebebasan, metode discovery, motivasi kompetensi, belajar discoveri, brainstorming, suasana yang berpusat pada siswa, pengajaran berprogram.
  • Pemberian harapan, dengan cara merumuskan TIK, tujuan yang langsung , intermediate, dan jangka panjang, perubahan harapan, tingkat aspirasi.
  • Pemberian insentif, dengan cara umpan balik hasil tes, pemberian hadiah, komentar, kerjasama.
  • Pengaturan tingkah laku siswa, dengan cara restitusi dan the riple effect.

PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN

1. PERKEMBANGAN KONSEP PEMBELAJARAN

Konsep pengajaran/pembelajaran terus berkembang, mulai dari :

· Pengajaran sama artinya dengan kegiatan mengajar.

· Pengajaran merupakan interaksi mengajar dan belajar.

· Pengajaran sebagai suatu sistem.

Pendekatan Sistem Pembelajaran

Aspek-aspek pendekatan sistem pembelajaran meliputi :

  • Aspek filosofis.
  • Aspek proses.

Ciri-ciri pendekatan sistem pembelajaran :

  • Pendekatan sistem sebagai suatu pandangan tertentu mengenai proses pembelajaran.
  • Penggunaan metodologi untuk merancang sistem pembelajaran.

Pola pendekatan sistem pembelajaran :

  • Merumuskan masalah,
  • Analisis masalah,
  • Pengembangan suatu pemecahan,
  • Eksperimental,
  • Menilai dan merevisi.

2. MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN TEORI-TEORI BELAJAR

Berdasarkan teori belajar ada 4 model pembelajaran :

  • Model Interaksi Sosial (social interaction model).

Jenis-jenis strategi pembelajaran dalam model ini, adalah :

- Kerja kelompok,

- Pertemuan kelas,

- Pemecahan masalah sosial atau inquiry sosial’

- Model laboratorium,

- Model pengajaran yurisprudensi,

- Bermain peranan,

- Simulasi sosial.

  • Model Proses Informasi (information processing models)

Beberapa strategi pembelajaran pada model ini, adalah :

- Mengajar induktif,

- Latihan inquiry,

- Inquiry keilmuan,

- Pembentukan konsep,

- Model pengembangan,

- Advanced organizer model.

  • Model Personal (personal models).

Strategi pembelajaran pada model ini adalah ;

- Pengajaran non direktif,

- Latihan kesadaran,

- Sinektik,

- Sistem konseptual.

  • Model Modifikasi Tingkah laku (behavior modification models)

Model pembelajaran ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik.

3. STRATEGI PEMBELAJARAN

Berdasarkan teori-teori belajar diungkapkan paling tidak, ada empat bentuk strategi pembelajaran, yakni :

  • Belajar penerimaan atau proses informasi dengan strategi ekspositif.
  • Belajar penerimaan atau proses pengalaman dengan strategi inquiry-discovery.
  • Belajar penguasaan berdasarkan pendekatan kelompok dengan strategi belajar tuntas.
  • Pembelajaran terpadu berdasarkan pendekatan integrasi dengan strategi pengajaran unit.

Daftar Pustaka

1. Suciati, dkk (2002) Belajar & Pembelajaran 2, Universitas Terbuka, Jakarta.

2. Winataputra Udin S, dkk (1998) Strategi Belajar Mengajar. Depdikbud Proyek Peningkatan Mutu Guru Kelas SD Setara D-II, Jakarta.